koneksi antar materi modul 1.4 Budaya Positif - PDF Flipbook

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4

101 Views
91 Downloads
PDF 5,423,865 Bytes

Download as PDF

REPORT DMCA


Oleh

Refleksi

SeVkiosliah Profil
Pelajar
Pancasila

FKiloHsDofi Budaya PVeisnigGgeurrauk
Mkeondurnattun Positif

Nilai dan ApInrkesuiiaritif
peran Guru TBaAhGapJaAn
Penggerak

Keterkaitan Antar Materi

Dalam modul 1.1 membahas tentang pemikiran
dan filosofi Ki Hajar Dewantara. Pendidikan
memegang peran penting dalam membentuk
karakter generasi penerus bangsa dengan
tetap mengutamakan nilai budaya bangsa
dan berpegang teguh pada Pancasila.

Pendidikanlah yang pada akhirnya akan menuntun jalan hidup
generasi penerus bangsa untuk untuk mencapai keselamatan
dan kebahagiaan diri sendiri dan orang lain secara meyeluruh
tidak hanya untuk mencapai kecerdasan semata, tetapi juga
tingkah laku/budi pekerti sebagai manusia yang beradab,
merdeka lahir dan batin sehingga mempunyai cipta rasa dan
karsa terhadap sesama.

Di dalam Modul 1.2 membahas tentang Nilai dan peran guru
penggerak. Dijelaskan Nilai dan Peran Guru Penggerak
merupakan sebuah komitmen, dipedomani dan diterapkan .
karena, didalamnya memuat kekuatan seorang guru dalam
menerapkan filosofi pemikiran Kihajar Dewantara dan
mewujudkan profil pelajar pancasila. Sebagaimana
dinyatakan oleh Lumpkin (2008), guru dengan karakter baik
mengajarkan murid mereka tentang bagaimana membuat
keputusan melalui proses pertimbangan moral. Guru
membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan yang ada
dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka yakin dan
percaya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa
mereka, hingga kemudian mereka terus menerapkan nilai
tersebut. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-
nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid
mereka

Pada modul 1.3 Adapun visi menjadi bintang penunjuk arah
yang akan menuntun ke mana guru akan melangkah. Visi yang
telah saya susun adalah terwujudnya pemimpin yang
berkarakter dalam ekosistem pembelajaran yang berpihak
pada murid. Tampak jelas adanya tujuan untuk menanamkan
karakter profil pelajar Pancasila dalam suasana merdeka
belajar dengan pembelajaran yang berpihak pada murid,
Nyaman dan menyenangkan bagi anak, sehingga memberi
ruang dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seuai
kodratnya. Visi tersebut dituangkan dalam inkuiri apresiatif
melalui tindakan BAGJA.

Modul 1.4 membahas tentang Budaya Positif. Budaya positif
merupakan perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal
yang diterapkan di sekolah. Budaya positif diawali dengan
perubahan paradigma tentang teori kontrol. Selama ini
barangkali kita sebagai guru merasa berkewajiban
mengontrol perilaku siswa agar memiliki perilaku sesuai yang
guru harapkan.
Dalam menciptakan budaya positif di sekolah tidak dapat
berdiri sendiri. Diperlukan adanya kolaborasi dari seluruh
kekuatan yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah.
Antara lain: Kepala Sekolah, rekan guru, murid dan orang tua
serta lembaga kemasyarakatan lainnya yang dapat
mendukung pelaksanaan budaya positif. Penerapan budaya
positif dalam aktifitas belajar mengajar sehari-hari di sekolah
sangat berkaitan dengan nilai lainnya.
Dengan adanya Budaya positif, diharapkan murid
memunculkan kesadaran dari dalam dirinya (instrinsik) tentang
nilai-nilai dan keyakinan yang telah disepakati.

JADI, hubungan keterkaitan antar materi mulai modul 1.1
sampai dengan modul 1.4 bisa disimpulkan sebagai berikut:

Pendidikan tidak hanya untuk mencapai kecerdasan
semata, tetapi juga tingkah laku/budi pekerti sebagai
manusia yang beradab, merdeka lahir dan batin sehingga
mempunyai cipta rasa dan karsa terhadap sesama.
(Modul 1.1)
Peran Guru membantu muridnya memahami nilai-nilai
kebaikan yang ada dalam diri mereka sendiri, kemudian
mereka yakin dan percaya sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka
terus menerapkan nilai tersebut (Modul 1.2)
Tujuan untuk menanamkan karakter profil pelajar
Pancasila dalam suasana merdeka belajar. (Modul 1.3)
Dengan adanya Budaya positif, diharapkan murid
memunculkan kesadaran dari dalam dirinya (instrinsik)
tentang nilai-nilai dan keyakinan yang telah disepakati..
(Modul 1.4)

Dari beberapa penggalan kalimat dari masing-masing modul
diatas bahwa semua berorientasi pada murid. Tujuan
pendidikan dan pengajaran pada dasarnya berpusat pada
kepentingan murid terutama pada penanaman nilai karakter
untuk menumbuhkan tingkah laku/budi pekerti sebagai
manusia yang beradab sesuai dengan tujuan pendidikan yang
kita harapkan yaitu karakter Profil Pelajar Pancasila.

Disiplin Positif Kebutuhan Dasar

Disiplin positif Lima kebutuhan dasar manusia
merupakan pendekatan yaitu • Kebutuhan untuk
bertahan hidup (survival), •
mendidik anak untuk Cinta dan kasih sayang (love
melakukan kontrol diri and belonging), • Kebebasan
(freedom) • Kesenangan (fun) •
dan pembentukan Kekuasaan (power)
kepercayaan diri. .

Segitiga Restitusi

Restitusi dilakukan sebagai

upaya membantu siswa

memperbaiki diri agar

dapat kembali ke

kelompoknya dengan

karakter yang lebih baik

dan kuat.

Posisi Kontrol Keyakinan Kelas

Seorang guru, orang tua ataupun Nilai-nilai keyakinan yang
atasan dalam melakukan kontrol. disepakati oleh kedua belah
Kelima posisi kontrol tersebut pihak, antara guru dengan
adalah Penghukum, Pembuat murid, untuk menciptakan
Orang Merasa Bersalah, Teman, lingkungan dn suasana
Monitor (Pemantau) dan belajar yang positif
Manajer.

1.Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti
yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif,
teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan,
posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan
kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik
untuk Anda dan di luar dugaan?

Disiplin positif merupakan Keyakinan kelas merupakan
pendekatan mendidik anak sesuatu yang dapat diterapkan
untuk melakukan kontrol diri di lingkungan kelas, dengan
dan pembentukan kepercayaan kesepakatan antara guru
diri. dengan murid.

Penghukum Bertahan hidup (survive)
Pembuat rasa bersalah Cinta dan diterima (love and
Teman belonging)
Pemantau Kesenangan (fun)
Manajer Kebebasan
Penguasaan
Menstabilkan Identitas
Validasi Kebutuhan
Menanyakan Keyakinan

2 Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam
menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda
setelah mempelajari modul ini?

Setelah mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa untuk
menciptakan budaya positif butuh perencanaan dan kolaborasi dari
berbagai unsur. warga sekolah, wali murid, stake holder dan
sebagainya. Dan tentunya Budaya Positif perlu perencanaan yang
matang, lalu konsisten dalam penerapannya sehingga pada nantinya
akan bisa menghasilkan siswa - siswi yang berkarakter sesuai dengan
Profil Pelajar Pancasila yang tertuang dalam Visi Misi Sekolah.

3. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait
penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif
baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Sebagai guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, seringkali
setiap pembelajaran praktik di lapangan, banyak murid yang tidak
mengikuti pembelajaran dikarenakan tidak membawa seragam
olahraga karena alasan lupa, basah dan lain-lain. Maka dari itu,
sebetulnya saya sudah menerapkan kesepakatan kelas. Namun hasil
dari kesepakatan kelas tersebut mengarah pada konsekwensi. Artinya
ketika siswa melanggar seragam atau kesepakatan kelas, mereka
harus mempertanggung jawabkan kesalahannya dengan melakukan
Push up atau lari keliling halaman.

4. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal
tersebut?

Ketika saya menerapkan keyakinan kelas dengan konsekwensi, saya
merasa bahwa apa yang dilakukan adalah membuat efek jera pada
siswa. Artinya saya menanamkan bahwa kesalahan apa yang
dilakukan akan mendapatkan akibatnya. Dan memaafkan kesalahan
bukan sebuah solusi untuk meningkatkan kedisiplinan murid.
Namun tidak jarang juga murid yang melanggar, besoknya akan tetap
melanggar juga. Apakah memang itu sudah menjadi karakter anak?
Atau memang harus dilakukan restitusi, bahwa kesadaran akan nilai
harus muncul dari dalam (instinsik) siswa itu sendiri.

5. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-
konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu
diperbaiki?

Tidak semua murid bisa dilakukan dengan tindakan Restitusi, dan juga
tidak semua murid bisa dilakukan hukuman atau konsekwensi. Semua
tergantung dengan karakter murid itu sendiri. Kalau menurut saya,
sebuah peraturan dibentuk untuk ditaati dan dilaksanakan.
Pelaksanaan peraturan inilah yang disebut dengan Proses
pendisiplinan. Setiap pelanggaran memang harus ada konsekwensi.

6. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan
murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling
sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu?
Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan
bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?

Sebelum mempelajari modul ini, saya sering melakukan tindakan
sebagai posisi kontrol yaitu penghukum dan membuat bersalah.
Karena saya yakin dengan menghukum akan menghasilkan efek jera
untuk tidak diulangi kesalahan yang sama. Demikian juga posisi
kontrol membuat bersalah. Ketika anak sudah dilemahkan psikisnya
maka dia akan termotivasi untuk bangkit atau memperbiki
kesalahannya.

7. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan
segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda?
Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda
mempraktekkannya?

Selama menjadi guru, saya belum pernah melakukan segitiga restitusi.,
karena saya memnag belum mengenal apa itu segitiga restitusi.
Dengan mempelajari modul ini, akhirnya saya tahu tentang segitiga
restitusi. Dan itu akan menjadi tantangan saya dalam menerapkan
perubahan ke arah Budaya positif yang diteapkan oleh sekolah.

8. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini,
adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari
dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas
maupun sekolah?

Untuk menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun
lingkungan harus ada perencanaan dan kesepakatan dari semua
pihak. Baik itu Kepala ssekolah, Guru, murid maupun orang tua murid.
Tujuan Budaya positif untuk mewujudkan nilai - nilai karakter anak
yang disiplin, taat, tertib untuk mewujudkan suasana lingkungan
belajar yang nyaman, aman dan kondusif. Jadi peran orang tua perlu
dilibatkan dalam pembentukan karakter tersebut pada anak saat di
rumah.

Latar Belakang Lini Masa

Rendahnya kemampuan anak Membuat perencanaan
Konsultasi dengan Kepala
dalam berkomunikasi, bertanya, Sekolah
Diskusi dengan teman
mencari informasi dan sejawat.
Membuat kesepakatan kelas
sebagainya dipengaruhi oleh Melaksanakan aksi Nyata
Mensosialisasikan kepada
kurangnya niat baca. kelas lain.
mendesiminasikan kepada
Tujuan teman sejawat
Membuat evaluasi dan
Menciptakan pelajar sesuai refleksi
dengan pendidikan abad 21,
kritis, kreatif dan inovatif,
komunikatif.

Tolok Ukur

Mampu berkomunikasi lisan
maupun tulisan.
Mampu menciptakan ide,
gagasan, karya secara lisan
maupun tertulis.

TeKraismiha


Data Loading...